13 April 2010

BABY COME ON - plus 44

She's a pretty girl
She's always falling down
And I think I just fell in love with her
But she won't ever remember, remember

And I can always find her
At the bottom of a plastic cup
Drowning in drunk sincerity
A sad and lonely girl

Quit crying your eyes out
Quit crying your eyes out, and baby come on
Isn't there something familiar about me?
The past is only the future with the lights on
Quit crying your eyes out, baby

And she said, "I think we're running out of alcohol
Tonight I hate this fucking town
And all my best friends will be the death of me
But they won't ever remember, remember

So please take me far away
Before I melt into the ground
And all my words get used against me
You sad and lonely girl

Quit crying your eyes out
Quit crying your eyes out, and baby come on
Isn't there something familiar about me?
The past is only the future with the lights on
Quit crying your eyes out, baby

Quit crying your eyes out
Quit crying your eyes out, and baby come on
Isn't there something familiar about me?
The past is only the future with the lights on
Quit crying your eyes out
Isn't there something familiar about me?
Quit crying your eyes out
The past is only the future with the lights on
So quit crying your eyes out, baby

Secondhand Serenade-Your Call

Waiting for your call, I'm sick, call I'm angry
call I'm desperate for your voice
Listening to the song we used to sing
In the car, do you remember
Butterfly, Early Summer
It's playing on repeat, Just like when we would meet
Like when we would meet

I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight

Stripped and polished, I am new, I am fresh
I am feeling so ambitious, you and me, flesh to flesh
Cause every breath that you will take
when you are sitting next to me
will bring life into my deepest hopes, What's your fantasy?
(What's your, what's your, what's your...)

I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight

And I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back home
x4
(I know everything you wanted isn't anything you have)

I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight

I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight

MISTERI SEBUAH PUZZLE

Hidup ini adlah sebuah misteri. Layaknya puzzle yang memiliki beribu gambar. Pecahan segala rangkaian peristiwa. Kadang kita menemukan puzzle yang bentuknya sangat sederhana. Tapi terkadang puzzle itu sangat membingungkan. Hidup ini memang bagaikan sebuah permainan. Hanya saja, yang memainkannya tidak hanya 1 atau 2 orang. Kita tak tau siapa yang akan muncul kemudian.


Seperti sekarang, aku sedang dihadapkan pada salah satu puzzle yang temanya paling tak kusukai, yaitu cinta. Jarang aku dapatkan puzzle berbentuk seperti ini. Karena aku tak terbiasa, atau mungkin bisa dikatakan sangat-sangat tidak suka memainkan puzzle yang berkaitan dengan cinta. Mengapa? Puzzle ini bukan hanya membuatku bingung, tapi juga, kadang aku sampai harus menangis karenanya. Banyak kamuflase, juga taktik licik didalamnya. Kita tak hanya bermain dengan pikiran orang lain, tapi juga dengan hati. Itulah bagan yang paling tak kusukai.


Malam ini sangat indah, langit dipenuhi taburan bintang, entah kenapa bintang-bintang ini terlihat sama seperti taburan meises di atas rotiku pagi ini. Entah apa yang ada di otakku. Ada semacam gerak-gerik yang nakal disana, yang tak bisa kukendalikan. Yap! We are talking about love. Apa kamu tahu ? Aku tak pernah sekalipun selingkuh, berfikir untuk itipun tak pernah. Tapi tidak kali ini. Kau pasti sudah tau, kemana pembicaraan ini akan berakhir.


Belakangan ini ada seseorang yang sangat menarik perhatianku. Sangat menarik. Aku ingin mengetahui semua tentangnya, ingin menjadi tempatnya berkeluh kesah, dan ingin membiarkannya tertidur di pangkuanku. Itu adalah masalah terbesarku saat ini. Aku tak mengijinkan diriku untuk mendekatinya lebih. Alasannya? Aku telah memiliki pacar yang sangat menyayangiku, dan aku tak ingin mengkhianatinya. Bukan hanya itu, aku telah mengenalnya, bayu. Walau hanya dari cerita-cerita sahabatku, vio. Dia orang yang baik, tapi tidak untuk hubungan yang serupa pacaran.


Tapi itu tak membuatku untuk menjauhinya. Lebih tepatnya tak bisa. Mungkin kau akan bingung, tapi itulah yang terjadi. Susah untuk menolak orang sepertinya. Entah apa yang membuatnya begitu menarik. Hahaha. Rambutnya ikal panjang memaksa untuk dibilang keren, karena memang tidak, wajahnya kadang lugu seperti anak kecil, tapi menyimpan banyak misteri yang membuat orang ingin tau dan lebih mendekat kepadanya, sial. Nah kan, kau sudah tau sekarang . . . baru saja tulisanku ini kubuat , aku sudah membicarakannya. Tapi anggap saja ini bukan karena aku kepikiran dia, tapi karena aku ingin menggambarkan bentuknya kepadamu, meski tak bisa sangat spesifik.


Tulisan ini sebenarnya kubuat 1 minggu yang lalu, saat ayahku masih dirumah sakit. Tapi kulanjutkan sekarang, saat semua sudah tak lagi main tebak-tebakkan. Saat perasaanku sudah lebih tenang dan tak lagi terombang-ambing dengan kemaksiatan puzzle cinta ini. Rasanya sudah 4 hari yang lalu aku sudah memutuskan untuk tak lagi memaksakan hubungan dengan pacarku itu. Alasannya? Jika boleh jujur, karena aku tak mau lebih menyakitinya lagi. Aku tak tau apa yang kurasakan kepada pacarku itu. Jika dibilang cinta, lalu kenapa aku sangat mudah tertarik dengan bayu? Apa karena memang aku yang binal? Ah. Rasanya tidak juga. Mungkin cintaku memang tak tulus kepadanya, daripada kian hari kian menyakitinya lebih baik kusudahi saja.


Lalu jadian dengan bayu? Hahahha . . tentu saja tidak. Alasannya? Bukankah sudah kukatakan sejak awal? Dia memang orang yang baik dan menarik, tapi tidak untuk berpacaran. Sebenarnya, aku masih tak mengijinkan hatiku untuk lebih mendekat dan menyayanginya, karena aku tau dia bukanlah orang yang setia. Mau bukti? Kemarin aku berkunjung ke rumahnya, bersama 2 orang kakakku yang juga temannya. Disitu aku dan vio sempat terlibat pembicaraan dengan adiknya bayu. (maaf dek, kakak lupa namamu) yang jelas, dia sempat menebak namaku. Hahaha . . lucunya tau apa yang dia katakan?


“kakak ini pacarnya kak bayu ya? Pasti kak Cecilia ya?”

“haaah?” aku hanya bisa melongo dibuatnya. Ingin tertawa, tapi timbul perasaan tak enak yang tak mau kusebut apa namanya. Iri mungkin. Dengan siapa? Cecilia itulaaaah! Sadar telah salah orang, adiknya segera memperbaiki ucapannya.

“ooowh bukan ya? Bererti kak rani?” OMIGOD hahahaha . . siapaa pula rani itu dek ? ampuuund dah! Rupanya dia tak tau namaku.

“emang, rani ama Cecilia itu pacarnya kak bayu ya dek?” kataku ingin tau.

“ah? Gaak . . ga tau ah. Ntar kakak marahan lagi ama kak bayu . . . tapi aku kira kakak pacarnya kak bayu, soalnya mukanya mirip sih.” Jawabnya.

Nahhhh yooo . . . ! mirip dari mana coba! Wkakakakakka . . ketauan deh. Kakaknya playboy kan? Hahahahhaha . . pulang dari sana, aku meneguhkan hati. Bayu memang benar-benar tak bisa menjadi pacarku, hanya bisa menjadi teman dan kakak yang baik. Tapi anehnya dia bersikeras tak maau menjadi kakakku. Entah kenapa. Padahal aku sudah mengetahui perihal Cecilia dan Rani itu . . hahahaha . .


Jawaban dari puzzle itu kini telah tersusun rapi, meski belum membentuk gambar seutuhnya karena salah satu bagiannya masih dibawa oleh bayu. Dasar! Memang benar jika orang bilang, jangan memaksakan keadaan, libih baik jalani saja dan kita liat kejutan apa yang terjadi nanti. .


12.04.2010

by :

NYANYIAN IBLIS KEMATIAN


Apa kau pernah terlintas akan kematian?


Aku sendiri di tempat gelap ini, tak bersama seorangpun. Hanya aku, gelap dan suara tangan yang lincah menekan tubuh keyboard dari leptop kesayanganku. Aku tak suka kondisi seperti ini. Terlalu sepi. Banyak hal yang tak kusukai didunia ini, gelap, sepi dan sendiri. Kenapa? Kondisi-kondisi itu membuatku berkhayal. Apa yang salah dengan berkhayal? Mungkin bagimu berkhayal itu merupakan sesuatu yang menyenangkan, tapi tidak bagiku. Aaaagggrh, kau akan tau sendiri nanti.


Saat kesunyian ini memelukku erat, sayup-sayup kudengar suara nyanyian seorang wanita. Bukan nyanyian bahagia. Mungkin bila kugambarkan, nyanyian itu terasa seperti . . . eeuuuhhm , , nyanyian kematian. Saat ini, aku sedang tak ingin menceritakan cerita fiksi kepadamu. Tapi, bukannya merasa merinding, rasanya tubuhku sudah amat bersahabat dengan nyanyian itu. Aaargh . . ! ini mengapa aku tak menyukai imaginasi berlebih yang dibuat oleh sel-sel kecil yang nakal di otakku.


Apa kau pernah terlintas akan kematian?



Aku tak tau bagaimana denganmu, tapi perasaanku belakangan ini sangat bersahabat dengan kematian. Hahaha. Apa kini sudah tiba giliranku? Hahaha. Kuceritakan 1 hal. Dua orang teman yang sekelas denganku kini sudah berpindah ketempat lain karena iblis kematian itu. Dan, sejak mereka meninggal, aku baru sadar, kematian itu sangat dekat. Mungkin aku berdosa karena memikirkan iblis itu, tapi aku tak bisa mengelak. Imaginasiku seolah berlayar dan berhenti di tempat iblis terkutuk itu. Jika kau mengira aku menikmatinya, kau salah besar.


Kurang lebih satu tahun yang lalu, aku terduduk diam di depan layar komputerku. Sama seperti saat ini, jari-jariku lincah mengetik tombol keyboard. Memulai sesi yang menyakitkan, berkhayal. Entah mengapa khayalanku sampai pada seorang teman. Teman yang amat kusukai. Dia adalah orang yang sangat kuat, dan sangat ceria. Tapi, hari itu disekolah aku melihatnya mengerang kesakitan hanya karena sakit kepala. Ia terduduk lemas, tak sebanding dengan tubuh tegapnya. Entah apa yang kupikirkan, aku takut karena tau itu bukan sakit kepala biasa. Entah kenapa aku bisa tau, mungkin sekali lagi, itu hanya khayalan brengsek otakku saja? Sungguh. Aku tak tau setan apa yang menghampiri kepalaku. Tuts-tuts itu kutekan sehingga menghasilkan barisan kata, walau belum selesai sepenuhnya. Aku tak suka membuat kerangka tulisan ketika aku mengarang. Kerangkanya kusimpan sendiri di dalam ppikiranku. Dan kali ini aku membuat kerangka yang amat sangat tak kusukai. Waktu itu, aku ingin membuat cerita yang mengisahkan tentang temanku itu dan penyakit maksiatnya. Apa sudah pernah kukatakan padamu? Aku tak menyukai akhir yang bahagia. HampIr semua cerita fiksi yang kubuat berakhir dengan tragis, kebanyakan berhubungan dengan kematian. Itu juga yang kupikirkan ketika membuat cerita tentang temanku itu. Aku ingin membuat perannya meninggal di akhir kisah. Dan saat ini, sudah hampir 1 tahun sejak aku membuat kisah sialan itu. Dan apa kamu tau? Dua bulan yang lalu temanku itu meninggal. Aku tak tau apa cerpen yang kubuat itu merupakan satu pertanda? Atau pikiran dan khayalanku yang membuatnya menjadi nyata?


Aaaaaaaaarrrrgh . . kepalaku sakit. Seperti yang sudah kuceritakan tadi, semenjak kematiannya aku seperti bersahabat dengan iblis kematian itu. Dulu, jika orang berkata padaku bahwa ia rasanya ingin mati aku selalu membentaknya, kadang malah membekapnya. Kini, aku malah menimpali dengan “iya, ajak aku juga ya!” Pernah suatu hari ketika aku mengemudikan motorku, aku merasa seperti iblis itu mendekati dan mengajakku pergi bersamanya ke alam yang entah apa namanya. Aku menolak. Ia pun pergi dan tak berani mendekat kembali.


Sahabatku, yang saat ini mungkin tengah diincarnya. Aku sangat tersiksa dengan celotehannya tentang kematian yang mungkin sebentar lagi akan menjemputnya. Hatiku ini berteriak kesakitan ketika dia mengatakan wajahnya semakin pucat. Kemarin dia berkata padaku, akhir-akhir ini ia sering dihantui perasaan yang membingungkan. Perasaan itu membuatnya malas untuk melakukan apapun, perasaan itu membuat kepalanya berat. Kemarin, ia bercerita setiap malam ia sering menangis, perasaannya gundah entah kenapa. Seperti membunuhnya perlahan. Aku ingin menjerit mendengarnya. Itu sangat menyiksaku. Aku ingin memohon kepada Tuhan, jangan ambil nyawanya. Setidaknya, jangan sekarang. Jangan empat bulan lagi. Jangan 1 tahun lagi, jangan 10 tahun lagi. Biarkan ia menggendong cucunya kelak, biarkan ia menggapai seluruh mimpinya. Kata orang, seseorang tak akan diambil nyawanya bila urusannya didunia ini belum selesai dan bila ada yang tidak mengiginkannya meninggal. Tuhan, aku tak menginginkannya meninggal. aku tak juga mengijinkannya. Aku tau mau, aku tak akan rela.


Nyanyian kematian itu kini menghilang, tapi aku masih bertahan ditempat ini. Masih ditelan gelap. Bedanya, di kepalaku kini rasanya ada 1 karung beras. Telingaku berdengung. Mataku sembab dan berair. Sudahlah . . . aku harus mematikan sel-sel saraf yang ada diotakku, setidaknya untuk 7 jam kedepan. Membiarkannya beristirahat sejenak, agar ia tak bisa membuat khayalan-khayalan aneh yang menyiksa lagi. Tidak untuk saat ini.



12.04.2010

BY :

Penyakit Sialan!

Kacang tanah yang dibungkus tepung itu sudah terlihat kecoklatan. Seorang gadis berusia 15 tahun sedang menyeka keringatnya. Sudah sejak 2 jam yang lalu, ia duduk di depan kompor minyak tanahnya. Kini tugasnya itupun hampir selesai. Tidak kurang dari 15 menit kemudian, ia telah beranjak dari tempatnya tadi. Ia berganti pakaian, membasuh muka dan mengambil tas yang sudah berisi bola basket kesayangannya.
“Ta, aku mau latihan basket dulu, kerjaanku udah kelar. Kamu kalo gak bisa nyelesaiin, ntar pulangnya aku bantuin dah.” Katanya kepada adik perempuan yang berselisih 1 tahun dengannya itu.

“Loh, gak mandi dulu? Emang ntar pulang jam berapa?” sahut adiknya.

“Enggak. Ah? Gak tau juga, tau kan kalo aku udah mau lomba.” Ucapnya itu sambil keluar dari rumah bertipe 36 itu, rumah yang sederhana memang, tapi cukup untuk keluarga mereka.

“Gak makan ?” Tanya adiknya lagi, tanpa mengalihkan perhatiannya dari tugas yang belum diselesaikannya itu.

“Ha.Ha. Emangnya ada makanan? Yang seiprit itu? Alaah udahlah! Abisin ajaa. . ku juga udah gak peduli!”
“Vera!” suara berat itu terdengar jelas.
“Eh,. mas momo? Kenapa?” kataku kepada pelatih basketku itu.
“Kamu kok pucat Ver? Kamu sakit? Mas liat dari tadi kamu megangi perut terus. Kamu belum makan?”
“Aah? Enggak kok mas, Vera cuman mules ajaah. Hehehe!” gurauku sambil cengengesan.
“Dasar kamu! Kirain kenapa! Udah, boker dulu gih! Ntar kalo kamu tiba-tiba buang angin, terus semua jadi pingsan, kan kagak lucu juga!” timpalnya.
“Yeee. . ! gak sejorok itu kalee. .! Ya sudah Vera latihan lagi ya. ?”
“Eeeehhh veeerrrr. . ?!!!” seru seseorang setelah ku ambruk.
“Mama? Papa?” Sial perutku sakiit sekali.
“Udah, kamu istirahat dulu ya.” Aku hanya bisa mengangguk lemah. Tak terasa akupun tertidur. Setelah terbangun, sakit jahanam itu sudah berhenti. Papa dan mama masih disini.
“Vera,. Kamu sudah bangun?”
“Iya ma...”
“hhmmmh,.. sebenarnya ini bukan saat yang tepat untuk ceramah. Mungkin kamu akan sedikit sebal, tapi kamu harus dengerin mama ya Ver. Maaf, mama dan papa kamu belum menjadi orang tua yang baik buat kamu. Tapi satu hal Vera, kami sangat, sangat sayang sama kamu. Kami gak mau kamu sakit, dengan alasan apapun juga! Kami berani ninggalin kamu sama adik kamu di rumah berdua, itu karena kami percaya sama kalian.” Tes.. tes.. air mataku sedikit menetes. Segara ku mengusapnya. Mamapun melanjutkan ceramahnya.

Yak! Itulah percakapan kecil yang terjadi di keluargaku. Harmonis? Kata itu sudah lama tak kudengar. Aku Vera, dilahirkan di keluarga seperti ini rasanya aku ingin berteriak. Ayah ibu, sibuk mencari pekerjaan untuk hidup kita sehari-hari. Aku? Setiap hari berlatih basket demi mewujudkan hobi juga bakatku. Tanpa memperdulikan penyakit maag yang kian lama kian menggerogoti lambungku. Entah sudah bagaimana parahnya. Ku tak peduli! Sedang adikku, nasibnya lebih beruntung, setidaknya ia mendapat perhatian lebih dari kedua orang tuaku. Mengapa? Meski malas mengakuinya, itulah yang terjadi. Aku yang akan berlomba di ajang besar tepatnya 3 hari lagi, tidak diperdulikan sedikitpun oleh kedua orang tuaku. Huuuff. . tapi dia? Yaaahh.. tapi sudahlah sekarang yang harus memnuhi pikiranku hanyalah berlatih dan berlatih saja.



‘Sreb! Aduhh.. tebakan mas momo pas banget sih? Emang keliatan banget ya?’



Sudah lebih dari setengah jam aku berlatih dengan sangat keras. ’aduuh! sakit banget nih perruuu...’

Ketika aku sadar tubuhku sudah terlentang tak berdaya di kasur rumah sakit itu.





“Kenapa kamu gak pernah ngomong sama mama dan papa tentang apa masalah kamu? Apalagi yang berhubungan dengan kesehatan kamu seperti ini? Mama tau, mungkin waktu mama untuk ketemu kamu memang sedikit, tapi mama kan sudah beliin kamu hp ver, itu dipakai. Mama mau, besok-besok kamu jujur dan ngomong ya, sama mama atau papa kamu tentang apa aja problem atau masalah kamu. Yaa?” kata mamaku menyudahi obrolannya dengan memelukku.

Huuft.. sudah lama aku tak merasakan pelukan hangat dari mamaku seperti ini. Bahkan aku tak ingat kapan terakhir aku dipeluknya. Aku memang sudah dewasa, tapi jujur! Aku belum bisa terlepas dari mereka. Mungkin sebagian hatiku mengeluh. Mengapa penyakit sialan ini datang tepat pada detik-detik perlombaan dan mengurungku disini. Latihanku sebulan lebih menjadi sia-sia. Tapi akibat penyakit sialan ini juga, aku tersadar betapa aku belum memahami orang tuaku. Aku merasa sangat jahat kepada mereka. Tapi takkan ku ulangi. Karena aku tau,
“Papa, mama, aku sayang kalian. Kalian orang tua terbaik di dunia! Terima kasih mama, papa,...”

12 April 2010

Lukisan Rumah Tua

Terlihat bekas kemegahan dari bangunan lama yang terletak di jantung kota bogor itu. Pilar-pilar yang menjulang besar menyiratkan keagungannya terdahulu, tapi kini telah diselimuti oleh lumut yang menjadi teman setianya selama puluhan tahun. Membuat warna cerahnya, berubah menjadi kelabu, termakan usia. Meskipun begitu, belum ada tanda-tanda istana itu akan digusur ataupun dipindah tangankan. Rumah itu telah kosong, entah dari kapan. Tak ada satupun yang tahu. Masyarakat sekitar rumah itu, percaya bahwa pemiliknya terdahulu telah meninggal dunia. Dan lagi-lagi tak ada yang tahu, apa sebabnya. Mungkin juga, mereka tak mau tahu tentang hal itu. Karena bangunan tersebut dianggap angker. Tak ada seorangpun yang ingin mengusik, atau menjamah rumah itu. Kecuali ..


“Tia!” teriak seorang anak. Teriakannya menggema ke seluruh ruangan.

“Dimana sih anak itu! Sampe aja entar aku temuin dia! Bakal tak pites kepalanya!” seru Doni, bocah yang berperawakan paling besar diantara ketiga temannya yang lain.

Sedangkan Tia, gadis lincah yang sedang mereka cari, berbadan paling kecil dan memang paling hobi bermain sembunyi-sembunyian. Dan tampaknya, kini dia telah membuat teman-temannya kesal, karena sejak mulai bermain tadi, belum ada satupun diantara mereka yang berhasil menemukannya.

“Ya udah, kita ngaku kalah deh Thi. Keluar dong,” Imbuh Andra.

“Ti, jangan kelamaan dong sembunyinya, ntar kalo kita dimarahin lagi gara-gara berani masuk kesini, gimana ?” ucap seorang gadis manis bernama Dhea.

“Tia ! Tia ! Aduuuh . Eh kalo kamu gak mau keluar dalam hitungan ketiga, kita bakal tinggal nih. Bener!” ancam Doni.
Sebuah kepala menyembul di belakang mereka.
“DDDDHHHAARRR” teriakan itu sontak membuat teman-temannyua terkaget-kaget.

“Aduuuh, ni dia orangnya, sini biar tak...”
“ Eh, tunggu!” cegah Andra.
“Sebenarnya kamu kemana sihh . . ? Kita dari tadi nunggun kamu.” Keluhnya lagi.
Yang dimarah, hanya bisa cengengesan.
“Sini deh !” ajak Tia sembari menarik tangan Andra.

Mereka berempatpun pergi ke sebuah ruangan, sangat besar. Memang, rumah itu adalah basecamp mereka, tapi tak ada satupun diantara mereka yang berani menjelajahi rumah itu, kecuali Tia tentunya. Dan kini, di depan mereka berempat telah terpampang lukisan besar berukuran sekitar 2m x 2m..


Paras cantik itu baru saja terbangun dari tidurnya. Kulit yang putih ditambah rambut hitam indahnya menyempurnakan perawakannya. Tapi , satu hal yang berbeda ada pada raut wajahnya pagi ini. Tidak ada kebahagian disana. Yang ada hanya kecemasan, ketakutan dan kesedihan yang mendalam. Hal itu diperjelas dengan matanya yang sembab dan kantong mata yang besar. Malam kemarin, ia memang tak bisa tidur, alasan satu-satunya adalah karena sang pujaan hati yang bernama Jarwo. Hari ini adalah harinya! Hari ini adalah penentu hubungan mereka. Di jaman ini mamang tidak diijinkan, anak keturunan bangsawan sepertinya menikah dengan keturunan pribumi seperti Jarwo. Tapi apa mau dikata, hati mereka sudah terpaut satu sama lain. Kecuali maut, tak ada satupun yang dapat memisahkan cinta mereka. Matahari belum terbit, diluar masih gelap. Tapi mereka sudah berjanji untuk pergi selamanya meninggalkan istana yang mengurung Addelia. Addelia terus menunggu, walaupun pusing dikepalanya belum bisa ia tangguhkan. Hatinya berdebar. ‘Jarwo! Cepatlah!’ batinnya meringis. Karena ia tahu, akan sulit bagi mereka keluar dari rumah yang berpenjagaaan ketat ini apabila matahari telah meninggi. Ayahnya sangat menentang hubungan mereka. Terlalu lelahnya menunggu, iapun tertidur.


BRAK! Suara keras itu menghantam pintu kamar yang berwarna putih itu.
“Addelia, Addelia..! Bangun nak.” Isak seorang wanita paruh baya.
“Bunda? Bunda kenapa?” tanya Addelia, yang memang belum sadar betul dari tidurnya.
“Sebaiknya kamu turun sekarang karena Bunda, tidak dapat menjelaskannya kepada kamu, nak. Ayahmu akan mengatakan sesuatu.” Hatinya berdebar kencang.
‘Perasaan apa ini? Kenapa firasatku sangat... Ah! Aku tak mengerti.’ Ia turuti juga. Di ruangan itu. Ruangan keluarga yang merupakan ruangan paling besar di rumah mereka,ayahnya terduduk menunggu kehadiran putri semata wayangnya. ‘tak biasanya ayah seperti ini.’

Setelah mereka bertiga terduduk, ayahnya pun mulai berbicara.
“Kini sudah waktunya! Kamu bilang, sore ini kamu akan menikah dengan Van Deboleour itu kan ? anak dari teman ayah!” seru ayahnya.
‘Jarwo tidak datang! Oh tidak! Kemana dia? Apa, dia mengurungkan niatnya untuk membebaskanku. Mungkin karena ia tahu, ia tidak akan pernah bisa selamat dari kejaran antek-antek ayahku ?’
“Hhmmmmh . .” Addelia menghembuskan nafas panjang. “Seperti yang telah kukatakan ayah, aku akan menuruti niat ayah.” Jawab Addelia, seraya pergi dari ruangan itu.
Ia ingin menyadarkan dirinya, dari janji-janji kosong yang telah Jarwo ucapkan kepada dirinya. Ia tak lantas pergi ke kamarnya, tapi batinnya mengatakan ia harus tetap disana, setidaknya diruang baca. Dari sini ia, dapat sayup-sayup mendengar percakapan kedua orang tuanya. Meski dalam keadaan menangis seperti ini.
“Kenapa?” ibunya memulai pembicaraan. “Tidak harus dengan cara seperti itu kan?”kembali bundanya itu terisak.
"Lalu,coba kau katakan! Dengan cara apalagi ia bisa kau bujuk untuk tidak menikah dengan anak tukang kebun itu!” timpal ayahnya.
“Lalu? Apa harus pemuda itu kau bunuh!” sambung wanita itu.
“Dia memaksa masuk, tadi pagi. Aku yakin ia ingin membawa putri kita pergi! Tak ada cara lain untuk menghentikannya! Sudahlah, kau diam saja dia sudah kubereskan di gudang. Tak akan ada yang tahu. Dan satu lagi tak usah beritahukan anakmu itu, biar dia menikah dengan Van Deboleour. Ia pasti akan bahagia.”beber ayahnya.
SREB! Addelia serasa mati lemas mendengar omongan ayahnya tadi. Ia mengambil pulpen yang ada di tempat itu. Keluar dari sana, ia berteriak
“Ayah salah!”
lalu berlari pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
“Addelia! Addelia! Kembali! Vacsor, Victor! Semua. Cepat tangkap dia!” perintah pria itu.
Addelia tak menghiraukan apapun. Ia harus pergi ke gudang.
Gudang itu sangat kotor. Lebih kotor lagi, bahkan sudah mulai ada bau atk sedap dari sana! Addelia mengelus pintu yang tergembok itu dengan lembut. Jarwo, tunggu aku! Sreb! Pulpen yang edari tadi dibawanya diunuskan ke arah urat nadi tangannya. Sakit, tapi tak lebih sakit dari perasaan di hatinya. Ia telah meninggal. Tapi tersenyum bahagia. Setelah melihat kejadian itu, ibunda Addelia tak bisa mengatakan apa-apa. Guncangan batin ini terlalu besar untuknya. Dan iapun mengakhiri hidupnya dengan mencertuskan pistol ke arah kepalanya. Sang jendral, tak lebih beruntung. Anak buahnya dipecat. Iapun menjadi gila. Akhir hidupnya? Jatuh ke jurang. Dan tak seorangpun tahu.

“Tia! Tia! Tia!” panggil ketiga temannya.
Sontak ia terbangun. Lemas.
“Kamu kenapa sih ? gak biasanya kamu pingsan?” celoteh dhea
“Eh! Orang pingsan itu, jangan dimarahin dong! Ya udah, kita pulang aja ya. Entar biar aku yang gonceng kamu. Sepedamu biar Doni aja yang bawa.” Urai Andra.
“Eh, kok aku?” protesnya.
“Karena kamu yang paling gede tahu! Ha.ha.” ejek Dhea.
Merekapun pulang dengan hati ringan. Entah bagaimana Tia bisa melihat kejadian tragis Addelia selama pingsan tadi.
“Kak Addelia, semoga kakak bahagia ya!”ucapnya.

“Kenapa, Ti?”

“Ah enggak, besok bonceng aku lagi ya!” guraunya.
“Huuu... enak aja!”

31.12.2009

FIRST LOVE

Ini kisah tentang first love seseorang, kata orang first love itu berakhir dengan sejuta kenangan manis. Itu gak berlaku buat aku..! Aku adalah sorang top model, cantik, tajir, dan pastinya seantro sekolah gak ada yang gak kenal ama aku. Siska. Aku kayak loe semua yang punya first love. First love, aku temuin saat aku duduk di bangku SMA. Karena, dari aku lahir ampe kelas 3 SMP gak pernah ada cowok yang bisa buat aku sesak napas. Semuanya sama! Cuman ngeliat aku dari fisik aja. Yang ini beda! Perasaan yang belum pernah aku rasain sebelumnya dateng pas aku lagi berhadapan ama dia.! sesek napas, jantung copot dari tempatnya, senyum-senyum sendiri, ngebayangin hal yang aneh-aneh. Pokoknya semua yang terjadi kalo kamu jatuh cinta udah pernah aku alami.


Namanya Adit, perjumpaan kita, berawal dari MOS. MOS yang dalam bayangan aku akan menyeramkan berubah jadi indah karena saat itu dia jadi panitia MOS kelompok aku. Saking freaknya, aku bahkan ngumpulin segala info tentang dia. Mulai dari nama lengkapnya, hobi, warna favorit, makanan favorit, juga tentang benny, anjing kesayangannya. Aku gak tau, tapi fansnya Adit gak begitu banyak, padahal menurut aku dia baik, pinter, tinggi, putih, dan yang paling keren adalah kacamatanya. Sayang, temen-temen aku lebih seneng ama cowok bau keringet yang suka panes-panesan di lapangan basket.


Udah 2 tahun aku sekolah di SMA Harapan Nusa. Dan sampai saat ini, aku belum bisa jadian ama Adit. Padahal 3 bulan lagi, Adit bakal lulus. Aku bukannya gak da usaha. Bahkan, waktu kelas 1 aku pernah nyatain perasaan cinta aku ke dia. Jawabannya?

“Kamu itu cantik dek, temen-temen kakak aja banyak yang suka sama kamu… Tapi maaf kakak gak bisa. Kakak rasa, kakak mau menyelesaikan sekolah kakak dulu. Makasih udah terus terang sama kakak ya.”

Dan bayagin aja! Dia bilang kayak gitu sambil megang tanganku! Akhirnya, aku mutusin untuk gak ganggu dia dulu, dan nyari universitas yang sama, biar kisah first love aku ini jadi last love juga. Tapi, tepat 10 hari yang lalu, Adit ingkar sama kata-katanya. Aku liat dia lagi jalan sama cewek di sebuah toko buku. Aku panes, jelas. Karena yang aku denger dari temen-temen juga, dia itu lagi deket banget sama seorang cewek. Dan kabarnya bahkan, mereka udah jadian. Ngeliat hal ini aku marah besar. Apalagi tau kalo cewek yang disebut-sebut cewek adit itu adalh temen seangkatan sama aku. Bahkan, aku juga masih inget, dia satu kelompok pas MOS sama aku. Angel namanya. Sama sekali gak cocok sama kelakuannya! Akhirnya, aku mutusin untuk ngelabrak dia 2 hari setelah kejadian di took buku itu.


“Eh elo, kacamata!” Teriak aku saat dia jalan di sebelah lab.

Hari ini aku ngikkutin dia. Dan bagusnya, sore saat dia selesai dengan ekskul KIRnya sekolah udah sepi banget. Tentunya, ini saat yang tepat buat aku untuk ngelabrak dia. Dan aku rasa, panggilan aku tapi cukup mengagetkan dia. Permulaan yang bagus!


“Sa. sa. sayaaa?” tanyanya dengan suara yang bergetar.

“Ya iyalah elo! Siapa lagi kalo bukan loe? Dasar cewek bego!” umpatku sambil melangkah mendekat.

“Ma. maaf.. ka. kamu siapa ya?”
Sumpah! Aku merasa ni anak udah bener-bener ngerendahin aku! Apa dia gak pernah liat cover majalah sekkolah?!!! Aku bener-bener gak tahan lagi.


“Heh! Banyak bacot loe! Loe thu udah jahat banget sama gue! Loe udah buat kesalahan yang besar!!!” bentakku.

Kali ini gak segan-segan aku memegang kerah bajunya dan mendorongnya kebelakang. Sontak ia terlempar dan mengenai perabotan di sebelahnya. Ia pun memekik. Semakin gak peduli, aku mengambil kacamata kudanya dan menginjaknya.


“Itu punya saayaa..” katanya dengan air mata yang telah mengucur deras. “Sa saya . minta maaf. Kalo saya ada salah sama kamu..” lanjutnya

“Eh, cewek ga tau diri! Elo JANGAN PERNAH LAGI DEKETIN ADIT!!! DIA ITU GEBETAN GUUUUEE..!!!!” kataku keras. tepat di sebelah telinganya.


Hujan kala itu amat lebat. Menenggelamkan teriakkanku dan isak tangisnya. Tiba-tiba aku merasakan cengkraman hebat di lengan kiriku. Membalikkan badanku dan disana, sebuah tangan orang yang kupuja sedang tertahan. Hampir menampar wajah ini.


KAMU SADAR APA YANG UDAH KAMU PERBUAT? HAH!!!! Bentaknya sambil mengguncang badanku. “Kamu itu udah nyakitin orang lain!” lanjutnya.


Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

“Kak Adit! Udah kak.. udahh..” pinta angel sambil menarik lemas lengan Adit.


Tapi, jelas Adit menepisnya. Kemarahan itu tampak jelas di sudut matanya. Dan dia terlihat lebih tampan.. idak! Sangat tampan bahkan..


“Sori an, tapi dia harus tau. Kalo apa yang dia lakukan itu udah sangat keterlaluan, apalagi untuk cewek sebaik kamu...”


“Kak Aditt.. Kakak jahat!” katanya sambil berlari pergi. Menembus dinginnya hujan.

“Angell.... tunggu...!!” teriaknya panjang. Sebelum adit berhasil mengjarnya, akuu menarik lengannya kuat-kuat. Aku tak ingin kehilangannya
.

“Tunggu kak..!” teriakku

“Apalagi sih?? Belum puas kamu nyakitin Angel????” teriaknya. Suaranya bergetar memecah keheningan sennja.

“Kak,, ..” kataku lemah. Suaraku bergetar. Lebih-lebih hatiku. Padam, redup, marah, semuannya bergejolak. “Apa kakak tau, kenapa aku ngelabrak angel??” tanyaku

“Kenapa? Karna kamu egois? Karna kamu mau menang sendiri karnaa...”

KARNA SISKA SAYANG KAKAK!!! Siska gak tau mesti berbuat apalagi. siska bingguung kaak.. 3 bulan lagi kakak udah lulus. Siska gak bisa nemuin kakak lagi. Siska bisa sabar dan gak lagi ganggu-ganggu kakak. Karena siska percaya kalo kakak bener-bener belajar buat kelulusan.. tapi nyatanya apaa???? Kakak nolak siska dan gak mau deket-deket siskka karna kakak suka sama Angel kan??? Iya kaaan??? Kenapa kakak gak jujur sama siska..??? Kenapa kaaak?? Kakakk EGOISS..!!” seruku kencang.
Aku tertatih. rasanya lemas, seluruh tenagaku habis. Perasaanku terkikis. Entah apa bentukku kini. Termakan hati yang perih, terbalut amarah, tergores luka, pilu yang amat dalam. Ku terjatauh, terduduk lemas.. sunyi... Akhirnya, kak adit memegang tanganku. Menarikku ke pelukkannya.
“Maaf. Maafin kakak.. Kakak emang bodoh! Kakak emang tolol... Angel itu adik dari sahabat karib kakak. Dia minta kakak untuk ngejagain angel. Emang belakangan, kakak jadi deket sama angel. kakak udah nganggep dia adik kakak. kakak gak tau kalo ternyata kakak udah nyakitin hati kamu dek.. Tapi kakak bisa bersumpah, saat ini kakak emang mau konsentrasi ke pelajaran kakak.. Dan itu bukan berarti kamu bisa berbuat jahat ke orang lain.. Kamu gak boleh bertindak bodoh lagi kayak tadi. Kakak minta maaf. Tapi kamu juga harus minta maaf sama angel sekarang.” Jelasnya.
Aku hanya bisa menunduk dalam-dalam. Megangguk perlahan.


“Iya kak..”


Ketika ittu, kami akan melangkah pergi dan menyusul Angel.. Tapi, tiba-tiba suara HP dari Adit jelas terdengar. Bak petir, kabar itu membuat kami bergetar. Kabar itu dating dari pihak kepolisian. Angel kecelakaan. Polisi segera menelpon adit, karena dialah yang terakhir ditelpon oleh angel. Dengan segera kami menyusul ke rumah sakit tempat angel dibawa.
Tanah merah itu telah sepi. Hanya tinggal aku dan adit. Entah sudah berapa lama ku menangis.. kini air mata itu telah membasahi dada Kak Adit yang sedari tadi mencoba menenangkannku.
“Maaf angel... Ini semua salahku. Aku emang egois. Aku emang bodoh!!!”

“Udahlah sis, ini semua udah takdir..”

“Enggak kak! Semua ini salah saya! Saya yang cegah kakak untuk ngejar angel. Saya yang ngerusak kacamata angel..! Semua ini karna sayaaa...” seruku dengan suara serak.

“Kamu gak salah spenuhnya. Kakak yang salah. Kakak udah nyakitin kalian berdua. Dito, kakak angel nyuruh kakak untuk menghibur angel. Dia cerita, kalo angel gak punya satupun teman di kelasnya. Dia terlalu pendiem. Setelah beberapa lama akhirnya, angel bisa senyum dan bahagia. Sampe akhirnya dia nembak kakak...” aku tercekat, bibirku tertahan..

“Kakak nolak dia, dengan alasan yang sama. Belum mau pacaran. Itu adalh dua hari sebelum hari kematiannya. Diaa kembali murung. Menenggelamkan diri di kegiatan ekskulnya. Kakak gak nyoba minta maaf. Kakak baru aja tau, kalo angel udah nyoba bunuh diri sebelum kamu bertemu dengan dia sore itu.” Lanjutnya.

“Angel nyimpen masalah besar sendiri. Ibunya juga bilang sama kakak, kalo emang sejak lahir angel emosian dan sangat pendiem.. Tapi kakak ga berbuat apa-apa. Kakak emang bodoh” Kak adit menydahi ceritanya.

“Angel itu emang baik banget kak.. Kita terlalu jahat untuk angel.. Maafin kita angel.. maafin kita..”


First love emang gak selalu berakhir bahagia. Kadang tanpa sadar, kita telah menyakiti orang lain untuk mendapat orang yang kita saying. Dan kali ini yang tersakiti adalah angel.. maaf an.. kita bakal doain kamu. Dimanapun kamu berada, semoga kamu bahagia...

8 April 2010

ALUN-ALUN KOTA

. . . . Lega rasanya menghempaskan diri di tempat ini. Rumput hijaunya menemani nyanyian kesunyian hatiku. alun-alun kota ini adalah tempat favoritku untuk bersantai. Ah , . . mungkin lebih tepat, untuk menenangkan diri dari berbagai macam cobaan yang menghimpit juga menyesakkan dadaku. Hari ini sangat tenang. tak seperti hari sabtu atau minggu. Suara-suara mobil dan motor riuh rendah beriringan memadati jalan yang memang berseberangan denganku. Bunyi klakson pun semakin sontar terdengar. manusia, memang tak pernah sabar . .


. . . . Bosan, akhirnya ku mengalihkan pandanganku. Menyapu sisi kiri dari alun-alun kota ini. gelap, hanya disinari lampu jalanan. Tak terlihat apa-apa. sekali lagi aku mencoba melihat ke sisi kananku. Akhirnya, terlihat sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. aaahhh , , ini adalah satu hal yang sungguh malas untukl dilihat. Semua yang bernasib sama denganku pasti akan berkata serupa. Kemari sendiri, karna tak mempunyai pasangan, memang lebih baik untuk tidak melihat hal-hal seperti itu.


. . . .Akhirnya kutekan tombol-tombol kecil di hapeku. Sudah 15 menit sejak aku sampai di tempat ini. Hmmmh . . Aku merebahkan diri pada kasur rumput ini. Bintang-bintang itu tampak ramai memenuhi angkasa. Teringat, sebuah novel yang pernah kubaca dahulu. "setiap orang memiliki bintangnya sendiri" hahaha . . Diantara beribu bintang-bintang itu, pasti sangat sulit menemukan bintangku. ahhh . . Hati ini sakit lagi.Itu membuatku teringat dengan pasangan tadi. entah perbuatan maksiat apa yang sedang meerka lakukan.Biarlah, sungguh ku tak ingin mengetahuinya.

"hhmmmmmbhh . ."
. . . . Hembusan napas itu sungguh berat. Hari ini hari minggu. Esok adalah hari baru, untuk memulai kegiatanku. Akhirnya ku melirik layar hpku, lagi ! 20 menit sudah . . Hahaha. . Aku memang tak sabaran, tak ubahnya seperti mereka yang menyalakan klakson-klakson di jalanan tadi. Cukup sudah, aku tak mau mati bosan di sini. suntikan semangat ini sudah cukup untuk menjadi "bekal" ku selama seminggu.
Alun-alun kota, entah kapan, tapi aku akan kembali lagi kesini untuk "menyapamu" . . .