13 April 2010

Penyakit Sialan!

Kacang tanah yang dibungkus tepung itu sudah terlihat kecoklatan. Seorang gadis berusia 15 tahun sedang menyeka keringatnya. Sudah sejak 2 jam yang lalu, ia duduk di depan kompor minyak tanahnya. Kini tugasnya itupun hampir selesai. Tidak kurang dari 15 menit kemudian, ia telah beranjak dari tempatnya tadi. Ia berganti pakaian, membasuh muka dan mengambil tas yang sudah berisi bola basket kesayangannya.
“Ta, aku mau latihan basket dulu, kerjaanku udah kelar. Kamu kalo gak bisa nyelesaiin, ntar pulangnya aku bantuin dah.” Katanya kepada adik perempuan yang berselisih 1 tahun dengannya itu.

“Loh, gak mandi dulu? Emang ntar pulang jam berapa?” sahut adiknya.

“Enggak. Ah? Gak tau juga, tau kan kalo aku udah mau lomba.” Ucapnya itu sambil keluar dari rumah bertipe 36 itu, rumah yang sederhana memang, tapi cukup untuk keluarga mereka.

“Gak makan ?” Tanya adiknya lagi, tanpa mengalihkan perhatiannya dari tugas yang belum diselesaikannya itu.

“Ha.Ha. Emangnya ada makanan? Yang seiprit itu? Alaah udahlah! Abisin ajaa. . ku juga udah gak peduli!”
“Vera!” suara berat itu terdengar jelas.
“Eh,. mas momo? Kenapa?” kataku kepada pelatih basketku itu.
“Kamu kok pucat Ver? Kamu sakit? Mas liat dari tadi kamu megangi perut terus. Kamu belum makan?”
“Aah? Enggak kok mas, Vera cuman mules ajaah. Hehehe!” gurauku sambil cengengesan.
“Dasar kamu! Kirain kenapa! Udah, boker dulu gih! Ntar kalo kamu tiba-tiba buang angin, terus semua jadi pingsan, kan kagak lucu juga!” timpalnya.
“Yeee. . ! gak sejorok itu kalee. .! Ya sudah Vera latihan lagi ya. ?”
“Eeeehhh veeerrrr. . ?!!!” seru seseorang setelah ku ambruk.
“Mama? Papa?” Sial perutku sakiit sekali.
“Udah, kamu istirahat dulu ya.” Aku hanya bisa mengangguk lemah. Tak terasa akupun tertidur. Setelah terbangun, sakit jahanam itu sudah berhenti. Papa dan mama masih disini.
“Vera,. Kamu sudah bangun?”
“Iya ma...”
“hhmmmh,.. sebenarnya ini bukan saat yang tepat untuk ceramah. Mungkin kamu akan sedikit sebal, tapi kamu harus dengerin mama ya Ver. Maaf, mama dan papa kamu belum menjadi orang tua yang baik buat kamu. Tapi satu hal Vera, kami sangat, sangat sayang sama kamu. Kami gak mau kamu sakit, dengan alasan apapun juga! Kami berani ninggalin kamu sama adik kamu di rumah berdua, itu karena kami percaya sama kalian.” Tes.. tes.. air mataku sedikit menetes. Segara ku mengusapnya. Mamapun melanjutkan ceramahnya.

Yak! Itulah percakapan kecil yang terjadi di keluargaku. Harmonis? Kata itu sudah lama tak kudengar. Aku Vera, dilahirkan di keluarga seperti ini rasanya aku ingin berteriak. Ayah ibu, sibuk mencari pekerjaan untuk hidup kita sehari-hari. Aku? Setiap hari berlatih basket demi mewujudkan hobi juga bakatku. Tanpa memperdulikan penyakit maag yang kian lama kian menggerogoti lambungku. Entah sudah bagaimana parahnya. Ku tak peduli! Sedang adikku, nasibnya lebih beruntung, setidaknya ia mendapat perhatian lebih dari kedua orang tuaku. Mengapa? Meski malas mengakuinya, itulah yang terjadi. Aku yang akan berlomba di ajang besar tepatnya 3 hari lagi, tidak diperdulikan sedikitpun oleh kedua orang tuaku. Huuuff. . tapi dia? Yaaahh.. tapi sudahlah sekarang yang harus memnuhi pikiranku hanyalah berlatih dan berlatih saja.



‘Sreb! Aduhh.. tebakan mas momo pas banget sih? Emang keliatan banget ya?’



Sudah lebih dari setengah jam aku berlatih dengan sangat keras. ’aduuh! sakit banget nih perruuu...’

Ketika aku sadar tubuhku sudah terlentang tak berdaya di kasur rumah sakit itu.





“Kenapa kamu gak pernah ngomong sama mama dan papa tentang apa masalah kamu? Apalagi yang berhubungan dengan kesehatan kamu seperti ini? Mama tau, mungkin waktu mama untuk ketemu kamu memang sedikit, tapi mama kan sudah beliin kamu hp ver, itu dipakai. Mama mau, besok-besok kamu jujur dan ngomong ya, sama mama atau papa kamu tentang apa aja problem atau masalah kamu. Yaa?” kata mamaku menyudahi obrolannya dengan memelukku.

Huuft.. sudah lama aku tak merasakan pelukan hangat dari mamaku seperti ini. Bahkan aku tak ingat kapan terakhir aku dipeluknya. Aku memang sudah dewasa, tapi jujur! Aku belum bisa terlepas dari mereka. Mungkin sebagian hatiku mengeluh. Mengapa penyakit sialan ini datang tepat pada detik-detik perlombaan dan mengurungku disini. Latihanku sebulan lebih menjadi sia-sia. Tapi akibat penyakit sialan ini juga, aku tersadar betapa aku belum memahami orang tuaku. Aku merasa sangat jahat kepada mereka. Tapi takkan ku ulangi. Karena aku tau,
“Papa, mama, aku sayang kalian. Kalian orang tua terbaik di dunia! Terima kasih mama, papa,...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar